Rabu, 08 Februari 2012


MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH (Kajian Tanggal 7 Februari 2012 di Musium Manggala Wanabakti Departemen Kehutanan)
OLEH: H. AGUS NUR QOWIM, S.Q., S.Pd.I

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 30-33
30.  Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
31.  Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
32.  Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[35]."
33.  Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"

[35]  Sebenarnya terjemahan Hakim dengan Maha Bijaksana kurang tepat, Karena arti Hakim ialah: yang mempunyai hikmah. hikmah ialah penciptaan dan penggunaan sesuatu sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya. di sini diartikan dengan Maha Bijaksana Karena dianggap arti tersebut hampir mendekati arti Hakim.


Munasabah dengan Ayat Sebelumnya
Pada ayat sebelumnya disebutkan Allah menciptakan apa-apa yang ada di bumi untuk kepentingan manusia. Kemudian diteruskan dengan permulaan penciptaan manusia. Selanjutnya Allah memberikan amanah kepada Adam untuk menjadi khalifah. Suatu kedudukan yang sangat mulia.
Tinjaun Bahasa
§      Kata اِذْ (izh) : merupakan keterangan waktu, berarti ingatlah tatkala. Ada yang kalanya dinampakkan seperti wazhkuruu izh antum qalilun. Izh, jika diikuti fiil mudhari maka maknanya lampau. Dan jika diikuti fiil madi maka maknanya yang akan datang.
§      Khalifah  (خَلِيْفَةْ): berasal dari kata khalafa yang berarti mengganti. Selanjutnya makna khalifah mengalami perluasan makna menjadi penguasa, orang yang melaksanakan hukum-hukum Allah di muka bumi.
§      Yasfiku (يَسْفِكُ): berasal dari kata safaka yang berarti mengalirkan , atau menumpahkan (jika disandingkan dengan darah)
§      Nusabbihu(نُسَبِّحُ) : berasal dari kata sabbaha yang berarti menyucikan dan mengagungkan Allah. Sucinya Allah terbebas dari kejelekan.
§      Nuqaddisu(نُقَدِّ سُ): berasal dari kata qaddasa: Yang berarti suci. Mengagungkan, memuji Allah dan mensucikan-Nya dari hal yang tidak patut bagi Allah.
§      An biuuni(أَنْبِئُِوْ نِى) : bermakna akhbiruni(أَخْبِرُوْنِى) : beritahukan kepadaku. Berasal dari kata anbaa(أَنْبَأََ)  yang berarti memberitakan. (Shafwatut tafasir, ali ash-shabuni, pustaka al-kautsar)
Tafsir Ayat
Ayat 30
§      Adanya informasi kepada malaikat (penyampaian keputusan Allah) perihal penciptaan manusia di bumi. Hal itu penting karena menyangkut tugas malaikat berkaitan dengan manusia (mencatat amal, membagi rizki,dll). Ajaran kepada manusia untuk bersyukur atas anugerah sebagai khalifah.
§      Malaikat bertanya tentang maksud penciptaan tersebut karena adanya dugaan bahwa mereka akan merusak dan menumpahkan darah. Hal itu berdasarkan asumsi: 1) Pengalaman mereka mengenai makhluk sebelum manusia. Dalam qishash al-anbiya makhluk tersebut adalah golongan al-hin dan al-bin (sebangsa jin yang tinggal di muka bumi 2000 tahun sebelum diciptakannya Adam). Mereka saling membunuh satu sama lain sehingga Allah mengutus bala tentara dari golongan malaikat untuk mengusirnya ke pulau-pulau terpencil). 2) Karena makhluk itu berbeda dengan malaikat yang selalu bertasbih. 3) Asumsi dari makna kata khalifah sebagai pelerai perselisihan dan penegak hukum, sehingga diantara mereka pasti ada yang berselisih. Namun, apapun alasannya, malaikat bertanya bukan atas keberatan. Malaikat menduga bahwa dunia hanya dibangun dengan tasbih dan tahmid. Hal itu terlihat pada ucapannya sedang kami menyucikan ( yakni menjauhkan zat, sifat dan perbuatan-Mu dari segala yang tidak wajar bagi-Mu). Sambil memujimu atas segala nikmat yang engkau anugerahkan kepada kami termasuk menyucikan dan memujimu. Mensucikan juga berarti membersihkan diri sesuai dengan kemampuan mereka. (Tafsir al mishbah vol 1 hal 172,lentera hati 2010, cetakan III)
§       Pemberitahuan kepada malaikat didasarakan atas keistimewaan yang akan dimiliki manusia. Malaikat tahu akan hal itu kemudian bertanya sebagai wujud rasa ingin  tahu dan meminta penjelasan agar bisa dijadikan hikmah buat mereka. Malaikat tahu karena telah diilhamkan sebelumnya (Al-Hasan). Mereka telah membaca kisah perjalanan hidup manusia di lauh mahfuzh. Atau karena praduga malaikat nahwa bumi akan diisi oleh makhluk yang sifatnya demikian.(imam ibnu katsir , kisah para nabi, pustaka al kautsar hal 15-16.)
§      Khalifah bermakna menggantikan Allah dalam menegakkan kehendaknya dan menerapkan ketetapannya. Bukan berarti Allah tidak mampu. Akan tetapi karena tujuan untuk menguji manusia dan memberinya penghormatan. Ada yang mengartikan yang menggantikan makhluk lain dalam menghuni bumi. Khalifah mengandung tiga unsur yakni: wewenang Allah kepada Adam dan anak cucunya, makhluk yang diserahi tugas, dan wilayaha tempat bertugas.
§      Malaikat merupakan jamak dari malak. Ada yang berpendapat berasal dari kata alaka, atau ma’lakah yang berarti mengutus/ perutusan/ risalah. Malaikat adalah utusan Tuhan untuk berbagai Tugas. Atau berarti la’aka yang bermakna menyampaikan sesuatu. Merupakan makhluk halus yang diciptakan dari cahaya, bisa menjadi bentuk apapun, selalu taat kepada Allah dan tidak pernah membangkang.
§      Allah memancing malaikat untuk bertanya tentang keutamaan jenis makhluk yang akan diciptakan. Sehingga jawaban Allah mengikis kesan ketidakmampuan manusia. Hal tersebut juga merupakan pengajaran dalam bentuk penghormatan. Selanjutnya Allah memberikan bukti konkret atas kewajaran manusia sebagai khalifah, dan kelemahan malaikat.
Ayat 31dan 32
§      Allah memberikan potensi pengetahuan tentang nama sesuatu kata-kata yang digunakan untuk menunjuk benda, mengajarkan fungsi-fungsi benda. Adanya informasi bahwa manusia mempunyai potensi untuk mengetahui nama,fungsi, dan atau karakteristik benda (seperti fungsi api, angin, dll). Potensi berbahasa. Hal ini tercermin bahwa pengajaran bahasa kepada manusia bukan diajarkan dengan mengenalkan kata kerja akan tetapi mengajarkan nama-nama terlebih dahulu.Ibnu Abbas mengatakan bahwa nama-nama itu adalah nama-nama yang biasa dikenal seperti manusia, hewan, tanah, pantai, laut gunung,dll. Ada riwayat, nama itu adalah nama alat yang digunakan seperti periuk, kuali, dll. Mujahid mengatakan: adam diajarkan nama binatang, burung, dan nama segala sesuatu. Ar-Rabi mengatakan Adam diajarkan nama-nama malaikat. Abdurrahman bin Zaid mngatakan:Adam diajarkan nama keluarganya.(kisah para nabi, hal19-20.2002)
§      Allah mengemukakan benda-benda itu kepada malaikat seraya berfirman : ”sebutkanklah nama-nama benda itu jika kamu benar”. Perintah ini bertujuan untuk membuktikan kekeliruan malaikat.
§      Malaikat menjawab : Mahasuci Engkau tidak ada pengetahuan bagi kami selain apa yang telah engaku ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang maha mengetahui lagi maha bijaksana.(T almisbah, hal177 , 2010). Malaikat mengaku tidak tahu jawabannya, dan mengakui kelemahan mereka, serta kesucian Allah. Hikmahnya adalah bahwa pengetahuan yang diajarkan kepada adam boleh jadi tidak dibutuhkan oleh malaikat karena tidak berkaitan dengan fungsi dan tugas mereka.
§      Manusia mempunyai kemampuan mengekspresikan apa yang ada dalam benaknya, menangkap bahasa sehingga mengetahui. Manusia mampu merumuskan ide dan memberi nama sehingga mengantarkan manusia kepada kemajuan.
§      Al-alim: menjangkau sesuatu dengan keadaan yang sebenarnya. Sesuatu yang demikian jelas hingga tidak memunculkan keraguan.
§      Al-hakim: Allah yang memiliki hikmah, yakni mengetahui yang paling utama dari segala sesuatu. Hikmah juga berarti sesuatu yang apabila digunakan atau diperhatikan akan menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yg lebih besar dan mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan yang lebih besar.
Ayat 33
§      Allah membuktikan kemampuan khalifah kepada malaikat dengan cara menyuruh Adam menyebutkan nama-nama yang telah diajarkan. Adam diperintahkan menyampaikan memberitakan kepada malaikat . hal ini tidak mensyaratkan pengulangan atau kepahaman dari yang diberitahu.
§      Ayat 33 diperinci untuk membuktikan kebenaran informasi kepada malaikat.
§      Adanya pemikiran dalam benak malaikat bahwa Allah tidak akan menciptkan makhluk yang lebih mujia dan lebih mengetahui selain dari mereka. Mereka tidak mengungkapkannya karena akan mengakibatkan keangkuhan yang berarti tidak sesuai dengan sifat mereka. Allah mengetahui apa yang disembunyikan  malaikat. Menyembunyikan secara sungguh-sungguh dan upaya yang keras. Ungkapan tersebut juga ditujukan kepada Iblis dengan segala macam yang ditutupi dan dirahasiakan dalam dirinya. Yakni kesombongan dan keangkuhan, atau juga kebencian terhadap adam dan keturunannya.
§      Keistimewaan Nabi Adam: diciptakan langsung melalui tangannya, ditiupkan langsung roh ciptaannya, malaikat disuruh bersujud kepadanya dan diajarkan nama-nama segala sesuatu.

Kata khalifah juga disebutkan pada
1.      Surat al-An’am ayat 165.

“Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Segala sesuatu akan kembali kepada Tuhan. Allah juga menjadikan khalifah-khalifah di bumi, yakni pengganti umat-umat yang lalu dalam mengembangkan alam. Dan meninggikan derajat akal, ilmu, harta, kedudukan sosial, kekuatan jasmani, dll. Sebagian kamu atas sebagian yang lain. Beberapa derajat. Khalifah berasal dari kata khalf, (di belakang) yang diartikan menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Menggantikan dalam arti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan baik bersamaan ataupun sesudahnya. Kekhalifahan terjadi karena ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan yang digantikan, atau karena yang digantikan memberi kepercayaan dan penghormatan kepada yang menggantikan. Ada juga yang memahami kata khalifah sebagai menggantikan Allah dalam menegakkan kehendaknya dan menerapkan ketetapan-ketetapannya sebagai ujian kepada manusia. Ada juga yang mengartikan sebagai pengganti makhluk lain dalam menghuni bumi  (ar-Raghib al-Ashfahani). Khulafa’ : makna kekuasaan politik dalam mengelola suatu wilayah. Khalaif : kekuasaan wilayah tidak termasuk di dalamnya. Bentuk jamak mengindikasikan bahwa  dalam mengemban tugas sebagai khalifah, manusia membutuhkan kerjasama dan bantuan orang lain. Tidak bisa dilakukan seorang diri.
Asy-Sya’rawi menyatakan bahwa menggantikan di sini maksudnya menyangkut waktu dan juga tempat. Berarti pergantian manusia dalam kehidupan dunia. dan kekhalifahan yang diterimanya dari Allah.
2.      Surat Yunus ayat 14

“Kemudian kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.
3.      Surat Shaad ayat 26

“Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah Keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan”.

Kesimpulan.
§      Penciptaan manusia di muka bumi sebagai khalifah mengalami kontroversi. Sehingga malaikat meminta penjelasan kepada Allah.
§      Betapapun, malaikat adalah makhluk yang selalu bertasbih dengan mensucikan Allah
§      Allah maha tahu dan bijaksana.
§      Penyematan gelar khalifah kepada Adam diserrtai dengan kewajaran yakni membekalinya dengan pengetahuan.
§      Manusia memiliki potensi untuk menyerap pengetahuan sehingga mengantarnya kepada penegertian dan kemajuan peradaban
§      Allah mengatahui apa yang terungkap dan apa-apa yang tersembunyi.

Rabu, 09 November 2011

Metode Pembelajaran Al-Qur'an


DIKBALIS (DIKTE BACA LANGSUNG ANALISIS):
SEBUAH METODE EFEKTIF DAN INOVATIF
DALAM PEMBELAJARAN AL-QUR’AN BAGI SANTRI TPQ

A. Latar Belakang
Al-Quran adalah kalamullah (firman Allah) yang menjadi panduan hidup bagi manusia. Al-Qur’an merupakan petunjuk dan penerang bagi seluruh alam raya. Oleh sebab itu, sudah seharusnya Al-Quran selalu berada di dalam hati setiap muslim dan dibaca setiap hari serta diamalkan.
Dari Abu Musa Al-Asy`arit berkata, Rasulullah bersabda:
Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur`an bagaikan buah limau baunya harum dan rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur`an bagaikan kurma, rasanya lezat dan tidak berbau. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur`an bagaikan buah raihanah yang baunya harum dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Qur`an bagaikan buah hanzholah tidak berbau dan rasanya pahit.” Muttafaqun `Alaihi.
Oleh sebab itu, Al-Qur’an selalu memberi keberkahan bagi setiap pembacanya. Bahkan di dalam perumpamaan tersebut, orang munafik saja masih merasakan bau harum dari buah raihanah, apalagi orang mukmin. Jadi, alangkah indah Al-Qur’an itu. Bahasanya indah dan memiliki makna yang uar biasa serta mampu menjadi syafaat.
Al-Qur’an berbeda dengan buku-buku kitab yang lain. Meski bentuknya hampir sama, namun Al-Qur’an mampu menjadi petunjuk sepanjang zaman. Al-Qur’an mampu menjai penerang berjuta umat yang mau mempelajarinya. Bagi orang yang sudah tahu, nilai Al-Qur’an tidak terkalahkan dengan nilai buku dan karya-karya sastra manusia. Sungguh, Al-Qur’an kalamullah itu tiada bandingan.
Setiap muslim wajib untuk selalu berinteraksi aktif dengan Al Qur`an dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi, berpikir dan bertindak. Membaca Al Qur`an merupakan langkah pertama dalam berinteraksi dengannya. Dengan membaca Al-Qur’an akan menggairahkan maupun menghidupkan kembali kegairahan kita dalam membaca Al Qur`an.  Hal ini karena keutamaan Al-Qur’an yang luar biasa banyaknya.
Dari `Utsman bin `Affan, dari Nabi bersabda :
خير الناس من تعلم القران و علمه
Sebaik-baik kalian yaitu orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya.” H.R. Bukhari.
Jadi, mereka manusia pembaca dan pengamal Al-Qur’an adalah manusia terbaik. Terbaik berarti paling baik. Ia menduduki tingkatan superlatif. Jadi, Al-Qur’an harus diajarkan sejak dini terutama di sekolah-sekolah khususnya sekolah  keagamaan.
Keutamaan yang lain adalah orang yang membaca Al-Qur’an akan dikumpulkan bersama para malaikat. Sungguh beruntung orang-orang yang dapat berkumpul bersama malaikat. Malaikat adalah makhluk Allah yang bersih dari dosa. Mereka makhluk suci yang pekerjaannya hanya mengabdi kepada Allah SWT.
Dari `Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda :
Orang yang mahir membaca Al-Qur’an  maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti,(baik suci) Dan barang siapa membaca Al Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran.” (Imam Muslim).
الماهر بالقران مع السفرت الكرام البررة والذي يقرء القران
ويتتعتع فيه فهو عليه شاق له اجران   
Begitu luar biasa keutamaan Al-Qur’an bagi pembacanya, sehingga kita perlu juga mengajarkannya kepada santri TPQ. Dari Abu Umamah Al Bahili  berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda : “Bacalah Al Qur`an!, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya).” H.R. Muslim.
Dari Ibnu `Umar, dari Nabi bersabda : “Tidak boleh seorang menginginkan apa yang dimiliki orang lain kecuali dalam dua hal; (Pertama) seorang yang diberi oleh Allah kepandaian tentang Al Qur`an maka dia mengimplementasikan (melaksanakan)nya sepanjang hari dan malam. Dan seorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta maka dia infakkan sepanjang hari dan malam.” Muttafaqun `Alaihi. Jadi, Al-Qur’an memiliki kenikmatan yang tiada tara. Selain itu, dari Abdullah bin Mas`ud berkata, Rasulullah : “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan “Alif lam mim” itu satu huruf, tetapi “Alif” itu satu huruf, “Lam” itu satu huruf dan “Mim” itu satu huruf.” H.R. At Tirmidzi dan berkata : “Hadits hasan shahih”. Jadi, pahala pembaca Al-Qur’an sangatlah berlipat-lipat. Ini pnting untuk diajarkan dan diamalkan.
Dari Muadz bin Anast, bahwa Rasulullah bersabda :
Barangsiapa yang membaca Al Qur`an dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, Allah akan mengenakan mahkota kepada kedua orangtuanya pada Hari Kiamat kelak. (Dimana) cahayanya lebih terang dari pada cahaya matahari di dunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa ganjaran itu disebabkan dengan amalan yang seperti ini. ” H.R. Abu Daud.
Melihat hadis tersebut, dapat diketahui bahwa Al-Qur’an tidak hanya untuk diri pembaca atau pengamalnya, tapi juga untuk memuliakan orang tuanya. Sungguh bersyukur orang tua yang anaknya rajin membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Untuk itu, orang tua harus sadar supaya dapat dan terus memasukkan anaknya ke TPQ.
Menimbang begitu utamanya membaca dan mengamalkan Al-Qur’an, maka Al-Qur’an itu perlu diajarkan secara maksimal di TPQ-TPQ. Banyak metode yang digunakan dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada para santri. Namun terkadang metode tersebut tidak efektif dan efisin sehingga santri tidak lebih cepat dan tidak lebih paham. Untuk itu maka penulis mencoba metode yang penulis dapat dari pengalaman mengajar santri TPQ.

B. Penerapan Metode Dikbalis

Dikbalis (Dikte Baca dan Analisis) merupakan satu rangkaian metode yang dapat digunakan dalam membelajarkan Al-Qur’an. Terdapat tiga komponen dalam rangkaian proses pembelajaran itu yaitu mendikte, membaca, dan menganalisis.  
Di dalam KBBI dikte adalah; yg diucapkan atau dibaca keras-keras supaya ditulis orang lain; imla;  -- latihan dikte untuk belajar menulis tepat; -- sari dikte yg hanya menuliskan kata-kata yg sulit; -- ulangan dikte untuk mengetahui kecakapan orang menuliskan kata-kata yang sudah dipelajari ejaannya;
men·dik·te v 1 menyuruh orang menulis apa yang dibacakan atau dikatakan; 2 ki menyuruh berbuat dan menurut saja spt yang dikatakannya (dng tidak boleh membantah): jangan terus ~ , berikan kepadanya kebebasan berpikir.
men·dik·te·kan v 1 menyuruh menulis apa yg dibacakan atau diucapkan: guru itu ~ pelajaran biologi kpd siswanya; 2 memerintahkan; menyuruh kerjakan: komandan itu ~ apa yg harus dilakukan oleh para tawanan.
Berdasarkan pengertian dikte yang berasal dari makna kamus itu, maka mendikte adalah proses membacakan dengan keras, pendengar menulisnya. Jadi mendikte yang merupakan kesatuan Dikbalis adalah seorang guru membacakan satu kata atau beberapa kata dengan keras untuk ditulis muridnya. Dalam hal pengajaranAl-Qur’an untuk santri TPQ, santri menyimak baik-baik pelafalan dari ustadz kemudian menulisnya di buku tulis.
Setelah kegiatan dikte, ustadz bersama dengan santri langsung mengecek tulisan santri, sudah tepat atau belum. Kemudian ustadz menuliskan hasil dikte yang tepat. Setelah itu, santri membaca dengan benar tulisannya. Ustadz gantian menyimak bacaan santri. Setelah itu, kegiatan selanjutnya adalah menganalisis.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer karangan Peter Salim dan Yenni Salim (2002) menjabarkan pengertian analisis sebagai berikut:
a. Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (perbuatan, karangan dan sebagainya) untuk mendapatkan fakta yang tepat (asal usul, sebab, penyebab sebenarnya, dan sebagainya).

b. Analisis adalah penguraian pokok persoalan atas bagian-bagian, penelaahan bagian-bagian tersebut dan hubungan antar bagian untuk mendapatkan pengertian yang tepat dengan pemahaman secara keseluruhan.

c. Analisis adalah penjabaran (pembentangan) sesuatu hal, dan sebagainya setelah ditelaah secara seksama.

d. Analisis adalah proses pemecahan masalah yang dimulai dengan hipotesis (dugaan, dan sebagainya) sampai terbukti kebenarannya melalui beberapa kepastian (pengamatan, percobaan, dan sebagainya).

e. Analisis adalah proses pemecahan masalah (melalui akal) ke dalam bagian-bagiannya berdasarkan metode yang konsisten untuk mencapai pengertian tentang prinsip-prinsip dasarnya.
Maka, analisis pada penerapan Dikbalis dilakukan dengan menguraikan sesuatu yang sudah didikte dan dibaca tadi. Misal ada kalimah: Min yaumin, maka selanjutnya dilakukan analisis bagaimana hukum bacaannya.
من يوم
Analisis dapat dilakukan sesuai tingkatan pelajaran. Misalnya pada hukum bacaannya, tentang i’rob, maupun tafsirnya dan kandungannya sebagai pelajaran hidup. Dengan demikian, kegiatan kontinyu dalam satu waktu menghasilkan tujuan yang lebih cepat. Diharapkan melalui metode ini, siswa dapat lebih cepat paham.


Metode merupakan tingkat penerapan teori-teori yang ada pada tingkat pendekatan. Penerapan dilakukan dengan cara melakukan pemulihan keterampilan khusus yang akan dibelajarkan, materi yang harus diajarkan, dan sistematika urutannya. Metode mengacu pada pengertian tahap-tahap secara prosedural dalam mengolah kegiatan belajar mengajar yang dimulai dari merencanakan, melaksanakan sampai mengevaluasi. Penerapan metode harus sesuai atau relevan dengan pendekatan yang dipilih karena metode merupakan penerapan dari pendekatan (Haryadi:2006:7).
Pendekatan dari metode dikbalis adalah kesatuan keterampilan proses. Di dalam pembelajaran, terdapat proses pembelajaran untuk membentuk santri yang memiliki kepandaian membaca A-Qur’an. Proses itu meliputi menyimak, menulis, membaca, dan berbicara. Metode dikbalis menuntut santri untuk melaksanakan langkah-langkah positif untuk menuju kualitas santri yang berhasil guna. Hal inilah yang akan mempercepat siswa paham akan materi. Pembelajaran efektif pun dapat diamati dan terlaksana dengan nyata.
Suatu metode dikatakan efektif apabila menimbulkan efek/dampak seperti apa yang diharapkan. Di dalam KBBI, efektif memiliki arti 1 ada efeknya
(akibatnya, pengaruhnya, kesannya); 2 manjur atau mujarab (tt obat); 3 dapat membawa hasil; berhasil guna. Metode dikbalis dapat dirasakan langsung hasilnya melalui proses yang pembelajaran yang berlangsung di dalamnya.
Dikbalis juga merupakan metode yang inovatif. Inovatif berarti sesuatu yang memiliki kebaruan. Dapat berupa hal baru, atau melanjutkan hal-hal yang telah ada untuk dikembangkan berdasarkan kebutuhan. Dikbalis yang sebenarnya hanyalah kesatuan kegiatan dikte, baca, dan analisis merupakan pengembangan dari ketiga elemen aktivitas pembelajaran tersebut.
C. Penutup
Diharapkan dengan metode dikbalis, santri dapat lebih cepat membaca Al-Qur’an. Untuk selanjutnya melalui penerapan metode dikbalis, santri dapat memahami Al-Qur’an. Hal ini karena keutamaan Al-Qur’an yang luar biasa sehingga pelajaran Al-Qur’an menjadi paling pokok untuk dibelajarkan di TPQ. Meski demikian, masih perlu dikembangkan metode lain yang lebih baik agar tujuan yang diharapkan semakin inovatif dan efektif untuk membentuk generasi Qur’ani yang Islami.



DAFTAR PUSTAKA


Al-Qur’anul Karim
Terjemah Riyadhus Shalihin
Al-Imam Abul Husein Muslim Ibnu Al-hajjaj: 2003 shohih Muslim: Daar Ibnu Haitsam: Sunan
Al-Jazairi, Abu Bakr.2008. Ensiklopedi Muslim. Jakarta: Darul Falah
Ali, As’ad Said. 2009. Negara Pancasila Jalan Kemaslahatan Berbangsa. Jakarta: LP3ES
As’ad, Aliy. 1979. Fathul Mu’in. Kudus: Menara
Hamalik, Oemar. 2003. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar berasarkan CBSA. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Haryadi dan Zamzani. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Depdikbud.
Rahim, Husni et.all. 2000. Pola Pembinaan Pendidikan Agama Islam Terpadu. Jakarta: Depag RI
Sabiq, Sayid.1982.Aqidah Islam: Pola Hidup Manusia Beriman. Bandung: Diponegoro
Solihin, Ahmad. 2003. Khutbah Pilihan: Ibadah. Bandung: PT Sinar Baru
Sugono, Dendy. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: Pusat Bahasa
Zuhairini, dkk. 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha Nasional.